MEMACU INOVASI & DIGITALISASI DI ERA DISRUPSI

Jumat, 02 November 2018 | 08:12


Keterangan Foto :

Direktur PT Pertamina (Persero) M. Haryo Yunianto (dari kiri), Direktur Utama PT Bukit Asam (Persero) Tbk. Arviyan Arifin, Direktur Utama PT Sucofindo (Persero) Bachder Djohan Buddin, Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro, Direktur Utama PT Semen Baturaja (Persero) Tbk. Bapak Rahmad Pribadi, dan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Ira Puspadewi, bertumpu tangan usai penandatanganan kerja sama dalam Rapimnas RKAP 2019 di Jakarta, Senin (22/10). Sucofindo menambah kantor layanan dan kerja sama dengan BUMN untuk peningkatan dan pengembangaan bisnis di Banjarmasin, Medan, Padang, Kendari, Ambon dan Jayapura

Industri 4.0 menjadi keniscayaan di dunia industri tidak terkecuali perseroan yang bergerak di bisnis jasa survei. Memasuki usia ke-62 tahun, PT Sucofindo (Persero) dituntut untuk kian menggenjot inovasi, digitalisasi, serta konsolidasi.
Bertepatan dengan hari ulang tahun (HUT) yang ke-62, Sucofindo mengadakan serangkaian acara mulai dari penandatangan sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hingga rapat pimpinan nasional (Rapimnas) yang mengusung tema Pertumbuhan, Inovasi dan Digitalisasi Proses Bisnis. Acara yang berlangsung di Graha Nandhika Sucofindo, Jakarta, Senin (22/10), turut dihadiri jajaran pejabat Kementerian BUMN serta Direktur Utama sejumlah perseroan pelat merah.
Menteri BUMN Rini M. Soemarno, dalam sambutannya yang diwakili oleh Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro, menekankan tema besar era industri 4.0 yang dinilai sudah tidak dapat dibendung lagi. Pemerintah selaku pemegang saham Sucofindo menyampaikan empat hal pokok menyangkut digitalisasi pada era industri 4.0
Aloysius menjelaskan bahwa ciri pertama yakni berlakunya vertical networking. Menurutnya, ciri tersebut mengandaikan bahwa jaringan sudah tidak lagi memiliki sekat-sekat atau hierarki.
Artinya, jaringan tidak lagi melihat apakah dia seorang kepala bagian, divisi, direksi, atau bagian lain dalam manajemen. Dengan demikian, skema tersebut menekankan pentingnya keluaran yang dihasilkan oleh seseorang.
“Jadi vertical networking itu apa yang bisa kamu buat bukan siapa kamu,” ujarnya.
Aloysius menyebut ciri selanjutnya dari industri 4.0 yakni horizontal integration. Salah satu contoh dari konsep tersebut yakni sinergi Sucofindo dengan sesama BUMN jasa survei.
Dia menilai apa yang sudah dikerjakan Sucofindo tidak perlu dilakukan oleh PT Surveyor Indonesia (Persero) dan PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero). Dengan demikian, ketiganya dapat saling fokus untuk memperbesar pangsa pasar bersama.
Ciri khas ketiga dari industri 4.0 adalah reengineering upclose function. Pihaknya meyakini sudah saatnya meninggalkan paradigma bahwa sumber daya manusia (SDM) hanya sebagai unsur pendukung.
“Tanpa SDM yang siap perusahaan bisa musnah tergerus persaingan ketat,” jelasnya.
Aloysius mencontohkan BUMN yang masuk ke dalam portofolio Kedeputian Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha (RPU). Pelajaran yang diambil, banyak perseroan musnah karena unsur SDM mulai dari direksi sampai dengan karyawan.
Menurutnya, sejumlah perseroan yang gulung tikar salah satunya akibat SDM yang tidak mampu membaca kondisi bahwa persaingan semakin ketat. Terlena dengan kondisi itu, laju korporasi sudah tidak mengarah ke pertumbuhan yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, akselerasi menjadi ciri khas keempat dari digitalisasi di industri 4.0. Perseroan tidak dapat lagi hanya jago kandang tetapi perlu konsolidasi untuk turut dalam perkembangan global.
Aloysius menekan saat ini waktunya konsolidasi bagi BUMN Jasa Survei. Hal tersebut untuk menggenjot dari pangsa pasar 30% menjadi lebih besar.
Bentuk konsolidasi tertinggi, lanjut dia, yakni dalam bentuk Holding BUMN jasa survei di Indonesia. Saat ini, proses persiapan mengatakan konsep Holding BUMN Jasa Survei ditargetkan rampung pada Oktober 2018. Secara keseluruhan, proses pembentukan ditargetkan rampung pada pertengahan 2019.
Aloysius mengungkapkan dalam skema konsolidasi tersebut Biro Klasifikasi Indonesia akan menjadi induk usaha. Kemudian, Surveyor Indonesia dan Sucofindo menjadi entitas anak.
Kendati demikian, dia menyatakan Biro Klasifikasi Indonesia tidak lantas menguasai kedua perseroan pelat merah di bawahnya. Pihaknya menyebut tiga BUMN itu bakal mengumpulkan kekuatan untuk menambah pangsa pasar.
“Dalam sejarah tiga bumn tersebut cukup maju dan berkembang sekarang waktunya konsolidasi,” imbuhnya.

Inovasi Produk


Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Sucofindo Bachder Djohan Buddin menyampaikan sejumlah arahan strategi bagi perseroan. Rapimnas tersebut digelar dalam rangka evaluasi kinerja 2018 dan penyusunan rencana kerja dan anggaran perseroan (RKAP) 2019.
Bachder mengungkapkan Rapimnas tersebut sekaligus menjadi penutup acara HUT Sucofindo ke-62 yang diisi dengan berbagai rangkaian kegiatan seperti pekan olahraga dan seni (Porseni), Festival Inovasi, dan family gathering. Pada pembukaan Rapimnas, Sucofindo juga melaksanakan tanda tangan nota kesepahaman dengan PT Pertamina (Persero), PT Bukit Asam Tbk., PT Semen Baturaja (Persero) Tbk., PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), dan PT Waskita Karya Realty.
Dia menekankan bahwa era disrupsi sudah tidak dapat dihindari lagi. Perseroan dituntut dapat beradaptasi dan berkompetisi.
“Kami di Sucofindo menyikapinya dengan konsisten terus mengembangkan digitalisasi proses bisnis,” jelasnya.
Bachder menjelaskan bahwa perseroan terus melakukan inovasi produk dan proses untuk meningkatkan daya saing. Selain itu, digitalisasi proses bisnis juga digenjot untuk mendukung kegiatan operasional maupun kemudahan pelanggan.
“Pembenahan secara internal konsisten terus dilakukan dengan melibatkan seluruh insan Sucofindo baik kantor pusat maupun cabang,” tuturnya.
Untuk terus memperkuat perseroan, dia menyampaikan setidaknya ada lima strategi yang harus dilakukan. Adapun, jurus tersebut yakni pertumbuhan bisnis, inovasi bisnis, digitalisasi proses bisnis, sinergi anak perusahaan, serta pengembangan kapasitas dan kapabilitas sumber daya. ? nn | as