Berita Terkini
Share on Facebook

           

           

Wed, 15 August 2012 09:19:42 +0700
Mendag Mempertanyakan Pengalaman Bulog

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mempertanyakan kemampuan Perum Bulog untuk menjadi importir tunggal. Yang dipertanyakan adalah kemampuan Bulog membangun jaringan dengan eksportir di luar negeri.

 

"Saya harus hati-hati karena ini kan terkait dengan pengalaman juga. Apakah Bulog sudah cukup pengalaman atau piawai membina jaringan dengan kawan-kawan di luar negeri," sebut Gita dalam acara buka puasa dengan wartawan, di Kantor Kementerian Perdagangan, Selasa (14/8/2012) malam.

Gita memandang positif jika Bulog akan dikedepankan demi menjaga kestabilan harga. Hal itu dipandang bagus untuk melindungi konsumen. Akan tetapi, ia justru ragu terhadap keinginan Bulog untuk menjadi importir tunggal sejumlah komoditas strategis. Keinginan ini dikemukakan BUMN tersebut seiring dengan rencana penugasan oleh Pemerintah untuk menjadi badan penyangga komoditas strategis tertentu.

Pasalnya, menurut Gita, selama ini pedagang dalam negeri tentunya sudah membina jaringan dengan pengusaha di luar negeri. Ada sistem yang telah terbentuk di antara mereka. Bila Bulog menjadi importir tunggal dikhawatirkan bisa mengganggu sistem yang telah ada. Meniru sistem pun bukan hal yang mudah.

"Bagaimana Bulog berperan jangan sampai mengganggu importasi beberapa komoditi. Lagipula, untuk menjadi importir tunggal, Bulog harus mempunyai infrastruktur untuk importasi. "Infrastruktur yang sudah dibangun pedagang itu puluhan tahun," tandas Gita.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan pemberian wewenang sebagai stabilisator harga dalam negeri harus didukung Pemerintah dengan memberikan alokasi impor lebih besar kepada Bulog.

"Begitu Bulog ditetapkan jadi badan penyangga, tentunya harus di-back up, kaitannya dengan impor. Tidak bisa Bulog diminta terjun bebas. Kalau impor dibebasin, ya pasti mereka (importir) sudah punya jaringan lebih luas," ujar Sutarto, di Jakarta, Senin (13/8/2012).

Pihaknya menyadari saat ini struktur pasar sudah terbentuk dengan adanya beberapa importir yang menjadi pemain utama dalam perdagangan komoditas tertentu. Oleh sebab itu, Bulog meminta Pemerintah mengambil keputusan menyangkut jumlah yang dapat diimpor dan pengalokasiannya.

Disebutkan Sutarto, pemberian alokasi impor harus diikuti dengan kewajiban menyerap produksi dalam negeri baik oleh Bulog maupun importir. Lalu BUMN pangan ini pun berharap setidaknya dapat menyangga beras, gula dan kedelai pada 2014 dengan menguasai minimal 15 persen dari kebutuhan tiga komoditas tersebut untuk mengendalikan harga pasar.

Penulis : Ester Meryana
sumber http://bisniskeuangan.kompas.com