Berita Terkini
Share on Facebook

           

           

Fri, 03 August 2012 08:57:52 +0700
BAHAN PANGAN POKOK

Pemerintah menargetkan akan menghentikan penjualan minyak goreng curah dan menggantinya dengan minyak goreng dalam kemasan pada 2015. Kapasitas produksi minyak goreng kemasan di dalam negeri mencapai 22 juta ton per tahun. Namun, konsumsi domestik baru 5 ton dan sisanya untuk diekspor.

 

Direktur Jenderal (Dirjen) Industri Agro Kementerian Perindustrian Benny Wachyudi, di Jakarta, Kamis (2/8), mengatakan, untuk meningkatkan konsumsi minyak goreng kemasan, pemerintah mengharapkan minat tinggi dari konsumen.

    "Sebagai negara penghasil minyak goreng terbesar, konsumsi minyak goreng di dalam negeri masih sedikit, khususnya yang dalam kemasan. Untuk itu, pemerintah meminta konsumen untuk memakai minyak goreng kemasan," katanya usai acara sosialisasi SNI untuk minyak goreng.

    Di lain pihak, Kementerian Perindustrian (kemenperin) akan mewajibkan produsen minyak goreng kemasan menambahkan vitamin A, karena mengacu pada standar nasional Indonesia. Ini juga untuk mendukung program pemerintah dalam mengatasi kekurangan vitamin A bagi masyarakat Indonesia melalui minyak goreng yang dikonsumsi. Untuk itu, Kemenperin bersama Kementerian Kesehatan mulai menyosialisasikan SNI Nomor 7709 Tahun 2012 tentang Minyak Goreng Sawit.

    Menurut Benny, dibutuhkan waktu selama sembilan bulan untuk notifikasi SNI ke pihak Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Agar SNI tersebut diberlakukan nantinya Kemenperin akan menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian dan dinotifikasi ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

    Sedangkan Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Gunaryo mengatakan, dengan penerapan SNI minyak goreng, pemerintah bertekad pada 2015 masyarakat tidak lagi mengonsumsi minyak goreng curah.

    "Jadi, minyak goreng yang dikonsumsi itu harusnya memenuhi kriteria kesehatan yang prima. Jika konsumen memakai minyak goreng sawit dalam kemasan, maka lebih aman karena proses produksinya sesuai dengan ketentuan pemerintah," katanya.

    Menurut Gunaryo, pihaknya sudah melakukan sosialisasi di 11 kota besar di Indonesia. Adapun sekitar 6-7 persen distribusi minyak goreng di Indonesia dalam bentuk curah. "Pemerintah akan meningkatkan program konversi minyak curah ke minyak goreng sawit dalam kemasan," ucapnya.

    Menurut dia, penerapan SNI Nomor 7709 Tahun 2012 tentang Minyak Goreng Sawit masih bersifat sukarela, karena belum pada tahap notifikasi ke WTO. Nantinya jika pemerintah sudah mendapatkan notifikasi dari WTO, maka penerapan SNI diwajibkan bagi seluruh produk minyak goreng kemasan.

    "Butuh waktu dan kesiapan industri kecil dalam memproses SNI. Sekarang sosialisasi dulu agar produsen tidak kaget ketika aturan diberlakukan secara wajib. Kemendag sudah menyatakan seluruh minyak goreng curah akan dikemas, kita perlu waktu dan teknologi serta sosialisasi. Di beberapa negara, penggunaan minyak goreng curah memang sudah tidak ada," tuturnya. (Andrian)

sumber http://www.suarakarya-online.com